Tibet

di ketinggian gunung kami, puncak-puncak membeku oleh rahasia mandala. kitab-kitab kami yang tua, setua semesta yang tercatat dalam peta astrologi dan skema gemintang saat kelahiran dan kematian kami ditentukan, telah berdebu oleh tanah kami yang kian gersang oleh panas angkara, kian merah oleh peluru-peluru yang jatuh basah. kami lupa betapa wangi udara yang pernah kami hirup kini pergi ke mana entah. betapa denting melodi dari embun dan kristal salju yang jatuh yang pernah membimbing kami meniti samadi kini menjadi staccato letupan senapan mesin yang memacu detak jantung kami, menghentak-hentak detik jam kami. pasir kami membara sekian lama, gua-gua pertapaan kami tumbang oleh derum tremor teror begitu gila. dalam ketakutan dan amarah kami terpenjara di tanah kami sendiri. sedang kalbu, satu-satunya harta kami yang tersisa, jadi sanktuaria tempat kami mengungsikan jiwa. kami ini tubuh yang kian hangus. harta kami tinggal jiwa semata.

di ketinggian angkuhmu yang api, sudut matamu meruncing dalam kilap setajam sangkur menatap tubuh-tubuh yang tersungkur. puncak-puncak salju hanya bisa tepekur, merenungi nasib sebatang sejarah yang terbakar. langit kehabisan air mata. bocah-bocah yang lenyap, ibu-ibu yang lenyap, ayah-ayah yang lenyap, kehidupan dan cinta dan keramahan yang lenyap, membuat tatapmu kian nanap.

di ketinggian suara kami yang kian serak, kami masih setia merapalkan mantra dan sajak. mencoba mencatat jejak. dan tetap belajar menjadi bijak.

1 Reply

  1. Andi Tafader Reply

    Mas, puisinya keren tenan oiiii
    Njaluk ilmunya sikit tha….

Reply