Foyer

kami sering terpaku di ruang ambang antara pintu dan ruang tamu. tak ada akuarium di sini–sudah cukup banyak ikan berenang di perut kami. di sini kami menghela jeda di sela-sela derum nafas kami, lalu berhitung berapa langkah lagi untuk sampai di bidang ranjang, tempat kami berdebat tentang kaki mana sebaiknya naik lebih dahulu: kiri ataukah kanan. ah, kami terlalu sering berhitung hingga habis jemari kami, buntung oleh bilangan-bilangan setajam pisau pancung.

di ruang ambang antara pintu dan ruang tamu ini kami sering terpaku. memandang tatap mata seseorang di lukisan dinding, sembari bertanya-tanya mengapa patung buddha itu terpejam matanya. buddha sedang samadi, katamu, dan kami begitu saja percaya. kami mengambang di antara pintu dan ruang tamu ini, bimbang antara menutup pintu di belakang kami atau melanjutkan tualang di padang kasur. tentu saja setelah menyapa patung buddha yang tertidur.

Dimuat di Kompas Minggu, 15 Juni 2008

Reply