Regol

kami ingin gerbang rumah kami tak terkunci, agar kami tak melulu dikungkung sepi. kami ingin beranda kami hangat oleh sukaduka yang datang dan pergi. kami ingin belajar tak takut pada pencuri, sebab bila siap berbagi, takkan ada yang bisa direbut lagi.

kami ingin gerbang rumah kami tak terkunci, agar kami tak merasa terkurung. kami menetas sebagai burung, rumah kami teranyam dari jerami kering dan serat-serat cinta yang kami pintal, kami gelung. lalu kami terbang dan pulang setiap kali, tanpa perlu mencemaskan anak kunci. rumah kami tak berpintu, hanya berpagar kidung dan tuah kalbu.

kami ingin gerbang rumah kami tak terkunci, agar segala yang terbang tak lupa tempat kembali.

Dimuat di Horison edisi Oktober 2008 dan Jurnal Nasional edisi Minggu, 16 November 2008.

6 Replies

  1. rhany Reply

    sebenarnya uda lama rhany ingin tau siapa yg menciptakan karya ini karena rhany sempat membacanya tapi tidak tau siapa yg menulisnya…
    salam kenal dari rhany
    rhany sangat suka dengan karya anda ini

  2. alizar Reply

    aku ingin mengagapai ilmu TS Pinang
    biar kurujuk puisinya dalam derit nada jemariku

  3. muridtelmi Reply

    … agar segala yang terbang tak lupa tempat kembali.

  4. andi t Reply

    hehehe, padahal kebelet banget pengen ketemu yg namanya TSP itu. eh, belum kesampaian, soalnya aku harus istirahat di tempat tidur 2 hari…

  5. tsp ke andi Reply

    Andi kok hari Minggu tgl 6 kemaren gak nongol di Workshop Puisi Kemudian.com?

  6. andi t Reply

    sebab bila siap berbagi, takkan ada yang bisa direbut lagi.

    bagi2 dong ilmunya, biar gak direbut (aku).

Reply