Bersepeda

kami ini sepasang kaki. kami mengayuh tungkai sepeda. kiri dan kanan bergantian, sesekali berjeda. semakin laju sepeda kami semakin kami tak tahu ke mana kami menuju. kami hanya sepasang kaki, bukan pemegang kendali. yang kami tahu hanya membuat sepeda kami lancar meluncur maju. kadang kami membawa penumpang, sebongkah pantat, sekarung kentang, atau bebek calon santapan yang dipadatkan dalam keranjang. kalau kami boleh memilih, kami lebih suka membawa telur. kami bahagia membayangkan telur itu kelak menetas menjadi ayam yang kelak bertelur pula. skenario lingkar kehidupan. kami tak bahagia membayangkan telur itu busuk atau punah di piring sarapan manusia. tapi kami tak bisa terlalu memilih. kami ini sepasang kaki. kami mengayuh tungkai sepeda. mengayuh saja.

Dimuat di Kompas edisi Minggu, 28 September 2008.
Sajak ini termaktub dalam antologi 60 Puisi Terbaik Indonesia 2009 Anugerah Pena Kencana (Gramedia, 2009)

1 Reply

  1. jamil Reply

    Saya baca minggu lalu di kompas. dan puisi inilah yang paling saya suka.

Reply