Lampu

lampu di bilik kami suka mati sendiri, lalu hidup lagi. sebentar, lalu mati lagi. kami memang bukan penggemar api, tapi masih sering terpana oleh lampu kami yang agak sakti: hidup mati sendiri. lampu kami tak lagi patuh pada sakelar atau sekering. mungkin ia sedang mencoba makar, atau cuma humor yang garing.

saat lampu itu hidup, bilik kami jadi terang. kami membaca komik atau berlama-lama saling pandang. saat lampu itu mati, bilik kami jadi suram. kami membaca tubuh kami dalam pejam sambil tetap saling peram.

terkadang, dalam puncak kejengkelan kami, ingin rasanya kami telan lampu itu. siapa tahu di dalam tubuh kami ia lebih suka hidup daripada mati, dan bilik di dada kami jadi selalu terang. dan kami pun jadi lebih mudah membaca hati sendiri, tanpa perlu meraba-raba dalam remang.

Reply