Laptop

laptop kami sudah pintar menulis namanya sendiri. nama depan, nama panggilan, nama belakang, nama samaran, nama kecil, nama setelah kawin, nama yang ingin dipahatkan di batu nisannya kelak. ia telah tamat belajar mengeja aksara, bosan menyusunnya menjadi kata-kata. kata benda, kata sifat, kata kerja, kata siapa, katanya, kataku, kata depan, kata belakang, kata samping, kata tengah, kata keterangan, kata kegelapan.

laptop kami pun pintar menggambar peta rumahnya sendiri, lengkap dengan skala dan penunjuk arah utara, selatan, timur, barat, atas dan bawah. setiap jalan dan simpang dan landmark dan skyline kota saat tersayat siluet senja. laptop kami pintar menggambar wajah dan membuatnya lebih tua atau muda, lebih feminin atau maskulin, kaya atau miskin, agamis atau atheis, ramah atau marah. laptop kami sudah pintar menulis namanya sendiri seperti dituliskannya di larik awal sajak ini. ia kini tak peduli layarnya menyala redup atau terang, ia hanya ingin minum secangkir coklat panas sambil merokok tembakau lokal dalam pipa cangklong seperti pernah ia lihat seorang penyair melakukannya setelah peluncuran buku puisi dan tampaknya keren sekali. tapi laptop kami tahu diri, ia tak punya paru.

laptop kami suka menyanyi, menari, melukis, memasak, berdoa, bersenggama. laptop kami tak suka membaca, ia membenci cuaca sebab setiap kali ia menuliskan nama-nama musim selalu ia salah eja. musim hujan diketiknya musim hudan, musim gugur jadi dubur, musim kemarau jadi kemarin, dan musim semai menjadi semu. laptop kami bercita-cita menjadi tukang pos. mengantarkan surat cinta ke seluruh pintu dan jendela. kini ia mencatat alamat-alamat di dunia dan akhirat.

Reply