Melirik

kami menggunakan sudut-sudut mata kami untuk memandang setiap yang tak sanggup kami tatap bermuka-muka. memandang secara pengecut secara tak jantan tak betina tak menatap muka. begitulah kami menyebut tatapan secara demikian sebagai lirik, tatapan rahasia dengan kedipan lentik. begitu pula cara kami memandang yang tak kasat oleh mata: hawa fitnah yang licik, tipu muslihat puitik.

penyair, o penyair, ampunilah kami yang buta tipudaya tipubahasa tipumakna, tak mampu menelisik benang sutera yang kau jahitkan di setiap larik. kami hanya sanggup melirik, tak mampu melihat jelas mana yang hitam yang putih yang burik!

Reply