Membau

kami insyaf benar, hidunglah makhluk yang tak pernah bohong, tak seperti mata yang suka menggoda dengan gelora dusta, telinga yang suka memerah oleh bara, atau lidah yang terlatih bersilat kilah. sejak keinsyafan itulah kami mulai membiasakan diri mengaji dengan ciuman, mengeja bebauan yang sedap yang busuk yang amis yang manis yang anyir yang segar yang masam yang licik yang lirik yang epik yang dramatik yang sastrawi yang surgawi yang jahanam yang sabda yang kutuk yang teluh yang tulah yang sihir yang SYAIR.

kami insyaf benar, bulu-bulu yang bergetar di rongga cuping hidung kami inilah yang memandu lidi kami menunjuk huruf demi huruf di kitab-kitab sandiwara, sandi yang berwara. dari baunya kami mencari tahu mantra apakah yang tertulis dalam kalimat-kalimat yang bukan dalam bahasa kami. dari aromanya kami mengidentifikasi dosa-dosa kami, syahwat gawat kami, gerdah serapah kami. kami insyaf benar, dan tersebab itulah kami kini belajar mencium tetes peluh di setiap lekuk peluk kami, membaui detak jantung kami menabuh tambur tarian tanah yang beresonansi dalam nafas kami: lagi-lagi, ini adalah jasa hidung kami pula.

hidung kami tak mancung tak pesek tak cembung tak cekung tak tumpul tak runcing tak prosa tak puisi tak tragik tak komik. hidung kami sederhana saja. bersahaja jujur apa adanya. dengan hidung pula kami membau sajak-sajak, lalu kami tahu dari rempah apa sajakah sajak itu berbumbu. kami insyaf benar. dari hidung jugalah kami belajar tak berdusta. kalaupun terpaksa melakukannya, akan kami usahakan selalu tak sampai berbau. kami insyaf benar.

Reply