Mendengar

kami adalah sepasang kuping, kanan dan kiri. kami suka membohongi kepala kami sendiri, mengabarkan apa saja yang terdampar di selaput gendang, kami nyanyikan sebagai lagu yang terbakar dendam. kami sepakat lebih baik merayakan kebisingan yang hingar ketimbang bisik angin yang tak tentu benar. sepanjang hari kami menabuh diri dengan irama badai pesisir dan gunung berguruh. kami peras pejuh-peluh hingga surup senja jatuh.

dan malam menangkupkan daun-daun sirih. dan kami yang letih merebah diri dalam desau yang lirih, frekuensi yang mengingatkan kami pada yang pedih-pedih yang perih-perih sementara kami tak pandai menangis tak fasih merintih. kadang kami bosan terus-terusan belajar mendengar, sedang mata yang pintar membaca lebih suka gambar-gambar yang binar, birahi yang nanar. dan ingat, kami hanyalah sepasang telinga, kiri atau kanan sama tulinya.

Reply