Televisi

televisi kami retak kacanya, memar oleh tongkat bendera. membran loudspeakernya koyak sebab bising berita yang tak lelah teriak. ALLAHU AKBAR. kami maha kecil. siapa mengajari televisi kami demikan barbar? mungkin kami lupa mematikannya sebelum mengasingkan diri di bantal tidur di mana kami rajin bermimpi menjadi kanak, selamanya kecil. maha kecil. kami lelah menjadi dewasa, merasa telah besar dan tahu hal-hal yang benar. televisi kami lelah berkabar, ia kini cuma sekotak plastik penuh memar.

televisi kami tak berbunyi lagi. kepalanya terbakar. lalu kami membalutnya dengan kain sprei agar lukanya tak berdarah lagi. maafkan kami, o televisi, kami hanya ingin membalut retakmu yang sembab. televisi kami buatan eropa. setelah kami balut retak lukanya. kini mirip buatan arabia.

Reply