Badar

setiap kali kami menutup sembilan pintu di rumah kami, kami memanjatkan harap agar tidur kami mulus dan lelap, agar tapa kami hening dan terjaga dari segala yang tak suci. kami menutup pintu-pintu itu sebagai isyarat agar kami diterima di lantai tertinggi di mana kami memasuki samadi, kamar yang tak setiap saat menerima kami. kami menutup pintu-pintu itu agar puasa kami tak bocor oleh aroma terasi bakar di dapur atau bunga harummalam yang birahi di kebun belakang.

kami menutup sembilan pintu di rumah kami menjebak sepi. di dalam kamar tengah kami menanti setetes lamur yang mengembun tiap malam memuncak, kami tadah dengan ujung lidah kami sebagai penawar haus yang membakar tekak. tetapi ada yang belum mampu kami jinakkan dan selalu menerobos pintu-pintu kami: debar gunung-jantung kami. gemuruhnya yang hingar selalu berhasil membuat pelita rumah kami gentar, meliuk, memudar. kami selalu takut pelita kami ditelan maut.

jantung yang gugup. pelita yang redup. selalu berhasil membatalkan tapa kami. gagal oleh debar. badar.

Reply