Berasap

kami lama merasa tungku itu ada di dapur kepala kami. sering gemeritik kayu apinya termakan bara. sangit asapnya sering memedaskan mata kami. kami sering memanggang hasrat dan mimpi kami, menggarang harapan-harapan kami agar matang dan sedap baunya. kami mengawetkan ilusi akan cinta dengan asap kayu api yang sangitnya menguatkan aroma, atau bara arang kelapa yang wanginya memicu dahaga. kami ingin dapur kami selalu berasap. bahkan malam hari di puncak kemarau yang dingin, tungku kami menyala dalam desis asap sekam. menghangatkan selimut dan nafas kami sepanjang malam hingga hari pecah dini. mengasapi birahi dan doa kami yang mengembun.

kadang kami mengira kepul asap yang membubung itu adalah kaldera volkano yang selalu siaga mengintai rumah kami. kami mungkin bernenek moyang Merapi, sebab kami mewarisi sifatnya yang api. tapi kepundan kami tak sebijak kawah gunung-gunung tua di negeri kami. kawah mereka meluahkan hawa tanah agar bumi tak bernanah, kepundan kami hanya mengasapkan gelisah. tungku yang membubungkan resah.

Reply