Bumbu Dapur

kami menggerus butiran merica hingga selembut cinta. kami tumbuk ketumbar kami agak kasar agar aromanya menguar, mengumbar debar. sedikit ebi dan garam laut menyisipkan petuah-petuah samudera di dapur kami dan kadang kami bertanya pada seulas pasta terasi untuk menafsirkannya. daun jeruk atau polong kemiri, asam jawa atau temukunci, kuning kunyit atau merah cabai, kami timbang-timbang dengan sesiung bawang, sedikit berambang. tabu kami mencicip masakan kami terlalu sering, sebab kesabaran adalah bumbu yang paling penting. bila lengkuas dan serai terlalu panas bagi tenggorokan kami, biarlah kami lunakkan gairah kami dengan serbuk kayumanis dan madu lebah.

kadang kami peraskan tetes limau nipis, sebab aroma masam tipis-tipis bagus untuk lambung kami yang aus dan geripis. seperti jahe yang kami memar kami bakar, begitulah kami sarikan rempah-rempah di dapur kami, kami sesap di lidah kami, cara kami memasukkan semesta ke dalam diri. seperti Bima menelan Ruci, lewat liang kupingnya yang kiri.

Reply