Cabuh

kami mengeramkan bebunyian dari sekujur tubuh ke kolong tambur telinga kami. kadang-kadang mereka masih suka gelisah dan mengaumkan gaung hingga ke dinding-dinding kepala kami. kami tahu, tak semua yang kami dengar itu benar sebab telinga kami suka lancung dan menipu. sesekali ia menangkap bunyi yang jauh, lain kali ia menjerat bunyi yang dicurinya dari lemari batin kami. telinga kami juga suka memalsukan suara, membuat gema, mendesiskan jerit, atau melantangkan desah. kami kadang menutup telinga kami dari bebunyian yang gaduh-riuh, sebab kami tak ingin telinga kami gembira lalu menciptakan bunyi-bunyi serupa. kami mengeramkan bebunyian, segala yang rendah-riuh, sengau-parau, gaduh-cabuh, dendang-genderang, desah-serapah. darinya kami berharap, suatu saat akan menetaskan sunyi.

Reply