Dungu

kami sadar otak kami pepat dan lemah sinyalnya. kami belajar berhitung pada telefon genggam dan selalu kami salah bayar saat belanja. kami lamban menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana, seperti “Berapakah namamu?” atau “Siapa judul puisimu?”; pertanyaan-pertanyaan semacam itu selalu membuat kami membisu. kami hanya tahu: bilangan yang habis dibagi satu tak habis dibagi seribu disebut bilangan cinta. selebihnya, kami hanya paham aritmetika kartu joker atau kaligrafi di kartu ceki. kami sadar kepala kami terlalu bebal untuk mengerti hal-hal. hal-hal yang penting lagi mahal. hal-hal yang sehat tapi halal. kami hanya pandai membual.

banyak yang bilang kami ini menebar sial. para ibu menakuti anak-anak mereka agar rajin belajar, biar tak seperti kami yang bodoh dan kurang ajar. agar rajin mengaji, biar alim dan berbudi. tak zalim seperti kami. ada yang bilang kami ini dungu, berotak semungil tengu.

tersebab itulah kami belajar selalu. kami cuma ingin memastikan, berapa banyakkah dalam hidup ini yang kami tak tahu.

Reply