Lucah

kami suka menjadi pencabul yang konsisten. mencabuli semua kelamin yang impoten. menggauli siapa saja yang kesepian: kitab-kitab tua, hukum-hukum semesta, pusaka-pusaka keluarga. kami senang mengumbar birahi dan menistakan diri sendiri dengan pesta-pesta orgy, kami setubuhi puisi luar-dalam, kami perkosa kata-kata luar-dalam, kami tarikan seringai kami paling jalang, kami musikkan ketukan lingga dan lumpang.

kala haus, kami menjilati liur kami sendiri, menenggak air ludah kami yang sesekali berapi. kala lapar kami memanggang paha paling seksi dari dewi puisi lalu melahapnya tanpa basa-basi, tanpa doa-doi. kecabulan kami tak pernah membuat baju-baju kami kering, selalu kuyup oleh peluh-pejuh. kadang-kadang tetangga kami mengeluh. kami tetap tak acuh.

kami gemar berpesta sejak malam bunting hingga ketuban subuh pecah. menjelang pingsan akibat lelah, kami memicingkan mata menatap dinding. mencoba meluruskan lukisan kaligrafi yang miring. tiba-tiba kami merasa begitu cerdas dan penting.

Reply