Mabuk

kami tumbuh dari kelopak bunga kamboja di tanggul kolam koi. kami besar di kelopak teratai yang berenang di tengah kolam. kami dewasa di kelopak mata, tempat kami mula-mula belajar dusta.

setelah cukup usia, kami mulai belajar menyelam. merunut sulur akar dan sisik-sisik ikan yang rontok. kami menghanyut bersama arus sungai. menghilir. berkelok. kami mulai menghafal batu-batu yang kami jumpai. ada yang ramah. ada yang garang.

kami berenang. kadang kami mengayuh dengan jujur, kadang curang. kami sedang mencari rahasia kecantikan rembulan. keelokan yang membuat kembang berebut mekar, membuat birahi ombak lautan. keelokan yang membuat kami mabuk cemburu.

di danau, kami bertamu pada kelopak-kelopak narsisus, kembang yang tenggelam dalam air matanya sendiri akibat tak habis sesalnya mencuri rahasia rembulan. ia mengutuk dirinya sendiri. terlalu cintanya pada wajah sendiri, tak sudi ia mengutuk yang lain.

tiba-tiba kami mual. memuntahkan purnama yang kami telan malam tadi.

Dimuat di Kompas edisi Minggu, 28 September 2008.

1 Reply

  1. a.syahyudhi Reply

    good poem

Reply