Memasak

melumat butiran ketumbar dalam lumpang batu, kami terkenang butiran tasbih di kalung leher kami. beberapa siung bawang putih merajam hidung kami yang belum kebal sengatan aromanya yang tajam. kami bertahan. beberapa petik cabai jingga, secuil terasi pesisir utara, bawang merah yang menguapkan air mata. sejumput garam mengkristalkan samudera dalam gerusan antan batu, mengenangkan kami pada dera usia dalam lecutan waktu.

api kami menyala kecil namun tetap. kami sedang melelehkan lemak palma beku dalam loyang penggorengan, menghangatkan lemak cinta kami yang lama-lama bisa beku jika tak rajin dipanaskan.

lemak palma leleh dan tua, siap mematangkan ikan dan daging, tahu dan tempe. siap melayukan kangkung dan buncis, bayung dan kobis. lemak palma leleh dan tua, siap melarutkan rempah dan saus, meneteskan ludah dan ingus. kami menggoreng, menumis. menggoreng, menumis rempah amarah, merica cinta, bumbu cemburu: gairah yang memburu.

begitulah kami memasak pagi, siang, malam, dengan api yang kecil atau besar, dengan nyala yang jinak atau liar. begitulah kami memasak pagi, siang, malam.

Reply