Membaca

ALIF. kami khilaf membacanya sebagai alpa. tetapi kami hanyalah serangkai laki-perempuan biasa. bisa alpa membaca aksara. kami ingat remang-remang deretan hanacaraka dirajahkan dalam serat-serat baju pangsi yang kami kenakan setiap subuh tiba hingga uzur hari. kami mengeja setiap sukukata dari rumpunan bintang di angkasa, dari koloni ikan di samudera, kawanan angsa laut di musim gugur dan gerombolan perdu di ladang kami. lalu kami mulai melafalkan kata dan frasa. kelumit kalimat hingga kisah-kisah keramat. kami mulai mengeja tanda-tanda dan aksara yang lebih perkasa.

BA’. kami tak ingin memberinya tanda kasrah atau menjadikannya nun yang samar lagi jauh. kami membacanya dalam pantat Semar yang terlukis di kaca sketsel rumah kami. magabathanga! jadilah bangkai sekalian saja. tetapi kami belum tamat membaca kitab yang tipis ini. tunggulah sejenak, paling tidak hingga nanti lepas isya’.

TA’. takkan kami paksakan anak-anak kami membaca apa yang kami baca. kami baca di sebongkah batu, setiap huruf punya pembacanya sendiri. kami membaca aksara kami. engkau membaca kalimat kau saja. dan karena itulah kami hanya mengeja sampai TA’, tiada pernah mencapai YA’.

Reply