Menatap

kami menatap setiap kata yang lewat. menduga-duga mana yang sekedar singgah, mana yang akan menetap. kami harus bertahan agar mata kami memandang tetap. tak luput menangkap apa saja yang menghampiri, mampir sejenak di haribaan kami.

kami sesekali bertukar mata, saling berjabat pandang. lalu kata-kata yang memercik dari cahaya mata kami saling membuahi. begitulah cara kami menyemai puisi. dalam tatap mata kami itu kata-kata kami bermutasi atau metamorfosa atau membasi. kami menatap setiap kata yang lewat, singgah, mati. atau yang datang, menetap, menjadi. kami menjadi saksi bagi kata-kata yang bermutasi jadi puisi, seperti percikan cahaya mata kami menjelma jadi kembang atau kumbang. menjelma lupa atau kenang.

kami menatap setiap kata yang lewat, meleleh jadi kalimat, jadi hikayat, jadi kitab nubuat. kami menatap kata-kata yang lewat. setiap demi setiap.

Dimuat di Kompas edisi Minggu, 28 September 2008.
Sajak ini termaktub dalam antologi 60 Puisi Indonesia Terbaik 2009 Anugerah Pena Kencana (Gramedia, 2009)

Reply