Mendangir

musim ketiga selalu mengelantang ladang-ladang kami. bumi kami mengering, keriput menela, melungka. rengkah akibat haus yang menggarang tekak leher. di saat itulah kami menyapa tanah kami. menggemburkan yang pejal, menguraikan yang bebal. di musim basah kami mendangir tetanaman kami, mengusir gulma — lintah ladang yang serakah. di musim kerontang kami mendangir tulah kemarau. menjaga agar bumi tak membatu, agar humus tak mengabu, agar hati kami tak juga begitu.

bila tanah kami lungka, jiwa kami luka.

kami terlahir oleh dengus dan peluh petani, aroma busuk jerami menafasi paru-paru kami sebagai embun pagi mengilaukan suri di kening kami. begitulah bau ladang menafasi kanak-kanak kami, begitulah kami tumbuh dijiwai.

setiap ayunan gancu bersula ganda, kami mendaraskan mantra gayatri. menyapa ibu kami yang mahasuci. kami mendangir sepenuh hati. agar zikir kami tumbuh membiji di ladang kami.

Dimuat di Kompas edisi Minggu, 28 September 2008.

Reply