Mengaso

sesekali kami istirah di stasiun-stasiun yang kami lewati sepanjang tualang kami. teras. ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, pekarangan buritan rumah kami. kami belajar menghela nafas sedalam samudera dada kami, seluas semesta yang mengeram di palung telinga kami. kami kadang lelah mengaji. lelah yang manusiawi. kadang kami berlari, bertani, berjanji, bernanti sekuat niat kami. kadang kami juga menjadi tua. tua yang manusiawi.

perjalanan kami yang panjang setiap hari selalu menyisakan remah entropi di sana-sini. penyair tak terkecuali, menyampahkan kata-kati di sana-sini. kata-kata yang mati. maka di setiap bangku halte kami mendudukkan pantat-pantat kami agar dapat pula mereka bernafas dalam-dalam sebagaimana hidung kami. lubang pantat dan lubang hidung, mereka sahabat sehati. tak bijak diperlakukan dengan diskriminasi. demikianlah. kami mengaso sejenak sajak. istirah sepanjang desah. menafaskan lelah.

Reply