Mengeluh

ribuan kali. ribuan kali kami mencoba berhenti dari puisi. mengingkari jalan yang kami tempuh ini, mencoba simpang yang lain, arah yang lain, cuaca yang lain. ribuan kali. ribuan kali. ribuan kali kami mencoba berhenti setiap kali kami gagal mengerti. tiada yang misteri dalam semesta ini kecuali identitas kami sejati. kami kini seperti pengingkar yang lihai, pengidap lupa pada janji yang telah kami sepakati, dulu sebelum kami menghirup nafas polusi. hidup mati hidup mati ribuan kali, kami tak tahu lagi warna kulit kami, tak ingat lagi cara membaca jam dinding. dulu kami membaca matahari sebagai jarum waktu. lalu kami dibabtis dengan ketakutan pada dewa Kala, pemangsa siapa saja yang alpa. kami tumbuh dengan ketakutan demi ketakutan. apa yang lebih menakutkan daripada puisi, yang ribuan kali kami coba ingkari, ribuan kali pula kami kembali?

Reply