Mengerik

kadang pundak dan punggung kami membatu. beku oleh lelahnya cuaca yang sering keliru. kadang mendung kadang cerah kadang sejuk kadang gerah, kadang-kadang saja benar. di saat seperti itu kami suka meminta sedikit saran dari sebotol balsam dan sekeping recehan. kamipun berkenalan dengan gurat-gurat simetrik di lempeng punggung kami. kami kelupas ari-ari kulit punggung kami dengan kerikan berulang, mengusir angin yang bersarang–pertanda nafas yang gagal atau ventilasi yang tersumpal.

kami menyukai angin yang bersih dan lembut, kami benci angin yang bersarang di tubuh kami. tapi mungkin juga itu salah kami sendiri, suka mengambil yang tak kami miliki, benci melepas yang kami sukai. gurat perih di punggung kami anggap saja kurban persembahan untuk pertobatan kami. begitulah, kami kerik pundak dan punggung kami dengan panas uap balsam: kami coba membakar melepas nafas yang jahat. agar menguap pergi.

Reply