Sakral

KAMI mendaki keheningan dengan mengendarai asap kemenyan. dupa agar kami lupa dusta dunia, membuka tabir keramat semesta. kami mengendarai kata-kata, merutukkannya ke udara hingga habis perbendaharaan kami, hingga lumbung kosakata kami tinggal hampa. berat badan kami ikut menyublim bersama kata-kata yang menguap, maka kamipun apung di angkasa kepala kami, langit-langit ubun.

di ketinggian semacam itulah kami singgah di danau embun yang kilaunya kilapkan dahi, embunnya yang bocor menetes di kerjap mata kami. entah mengapa kami selalu terharu setiap kali tiba di danau itu. mungkin itulah pintu yang tak sanggup kami lewati sebelum kami mantrakan kata sandi. puisi! puisi! puisi! puisi! puisi! puisi! puisi!

Reply