Suram

kami menyukai cahaya sekaligus takut silaunya. kami menyipitkan mata, mengukur seberapa terang cahaya yang mampu kami rasukkan ke tubuh kami. kami memang dilahirkan dari cahaya jauh sebelum bintang matahari menceraikan diri, sebelum planit-planit makar dan menjadi satelit bagi pusat tubuh kami. sejak perceraian itu kami menjadi semakin redup sebab mentari mencuri hampir semua cahaya kami, planit-planit mencuil sedikit, dan kami terlalu lamban merebutnya kembali. kami menjadi semakin redup. kian remang dan haus cahaya. kami mengemis pada mentari setiap hari, mengemis pada bintang dan bulan tiap malam mengendap. kami makhluk yang gelap.

kadang kami bernostalgia mengenang saat lampau, saat kami berlimpah kilau, bermandi sinar setiap saat. tak ada siang benderang atau malam yang kelam, semua gemilang sepanjang waktu. dan kami selalu tergagap bangun begitu senja menggelap. ah, senja selalu membuat kami berdebar. temaram kecemasan. cahaya seharian yang segera hilang, berganti kelam yang menyuburkan kerinduan kami yang akut; pada cahaya yang selalu kami jerat, luput.

kadang kami mengibur diri. dengan korek api. meski kami tahu dan mengerti, api lebih suka membakar, sedangkan cahaya menerangi. tapi kami memang selalu tak berdaya dalam gelap. selalu kalut terpedaya oleh rasa takut kami yang kalap.

Reply