117. Yang Tinggi dan Jauh atau Dekat Teraih Tangan?

PENYAIRKU, ada suatu masa ketika angan-angan tentang kesempurnaan itu begitu tinggi melangit. Saat mula-mula mengenal sajak, seperti tiba-tiba dihadapkan pada kerinduan yang tak terbendung pada Langit. Lahirlah sajak-sajak yang petang, yang gelap seperti langit kemarau yang begitu ingin menampilkan bintang-gemintang yang jauh, surga yang jauh, neraka yang jauh, Tuhan yang jauh.

Penyairku, sebelum engkau terjebak pikun menjadi dukun, ada baiknya membuka mata dari meditasimu, memandang sekeliling. Yang dekat-dekat saja, yang tampak oleh mata, yang bisa teraih tangan. Bila kau diberkati Dewi Puisi, sajak takkan lari ke mana.

3 Replies

  1. Vico Reply

    mmmmm, sebagai bahan renungan kita semua……

  2. Panca Reply

    Keadaan ini semakin mempersulit keinginan masa muda yang kompleks, cari dan mencari masih selalu ku jalani, meskipun tanpa hasil yang memuaskan. Ke-vakuman obyek disekitarku mempengaruhi ketidaktahuan dan kemalasanku. Basi…!!!, dan bagiku semuanya harus ku akhiri… tapi tolong beritahu aku bagaimana caranya?

  3. bambang saswanda Reply

    maafkan
    aku ingin berguru…
    ajari aku
    menjadi aku (paling tidak)
    atau mungkin jejak langkah
    yang kau tapak
    ku pijak dengan tapak ku
    ajari aku
    mengenal"nya"
    membenamkan diriku hingga padu
    sepeggal kepala (pun jadilah)
    tubuhku merasakannya saja sudah cukup
    sampai aku bisa perlahan menyelaminya
    hingga ke ubun-ubun

Reply