Koran Minggu

begitulah kami bermain-main nasib di negeri koran setiap ahad pagi. ada yang bermain dewa dan para penyembah berhala. memantrai udara, mengaduk bubur kata, santan tua, juga tawa yang menggema. kami hanyalah pemuja yang mengirup sajak dari asap getah kemenyan (sejak pohon kemenyan punah dari hutan konifer kami, kini kami hirup asap obat nyamuk bakar yang sama wanginya). kami biarkan jiwa kami diambil alih senja, kesurupan remang dan metafora–dedemit yang luar dari perangkap toples Pandora. lihatlah kami belajar sejarah kata-kata dari jamu Avicena, dari tarian anggur Rumi, dari cekat nafas Hallaj. lihatlah kami lupakan sejarah kata-kata di halaman puisi, di koran-koran, di ahad pagi.

Reply