Kuliah Pagi

kami bertarung dengan rasa bosan dan selembar peta. lihatlah, tak ada sejarah di gambar ini. hanya jazirah yang marah dengan bentangan ladang dan sawah. juga para petani yang menyewa tanah mereka sendiri, lalu makan beras dari toko sebelah rumah. kami bertarung dengan rasa bosan di buku tebal berisi ratusan tabel dan angka-angka. dan selembar kartograf yang miskin data, miskin berita, miskin senyuman. selembar peta yang murung, topografi yang bingung sebab sawah-sawah di gunung itu gembur dan muara-muara kami penuh ikan dan belut bergelung-gelung di dasar lumpur.

kami bertarung dengan selembar peta yang bosan. murung dengan tanda-tanda palsu, dengan legenda dan garis-garis bayangan belaka, dengan skala yang terlalu rabun untuk menggambarkan pematang sawah-sawah kami yang musnah. peta yang menangis darah tersalib garis bujur dan lintang yang tak berarti apa-apa. tidak sawah yang subur tidak ikan berlimpah. kami bertarung dengan seringai profesor statistika yang menertawakan kemiskinan, seperti kami menertawai kebodohan kami sendiri.

kami bertarung berebut bosan dengan selembar peta. peta yang bingung, negeri siapa tergambar di sana. dan kami yang bosan, melihat gambar yang itu-itu juga.

Reply