Memoar Dermaga

asin angin laut dan cerih camar musim gugur terkenang dalam catatan silam, juga mimpi-mimpi nanti. kami rindu desau angin utara dan warna-warni musim panas menyapu dermaga ferry marina kecil di pesisir benua yang gigil. kano-kano bercadik, berlayar kanvas, dan nelayan yang berangkat yang datang, seperti luka arang luka kenangan dan debar harap debar layar yang menegang. kami lama lupa darah yang deras di jantung ini gelombang samudera.

jendela hostel murahan, paruh camar mengetuk kacanya. subuh tanpa azan, dan cuaca menggigilkan jaket katun tropika. di situ kami terjepit antara degup dada remaja yang membiru teragi tahun-tahun berlalu dan aroma amis-asin keringat pelaut. di marina yang lain, dermaga yang lain.

Reply