Rokok Keretek

ladang tembakau di kakimu, Merapi. mencatat ribuan musim senja dan embun pagi. ribuan lembar kipas daunannya mengusir kutukan debu api dan ulat-ulat yang rakus, pasemon hasrat kami yang tak kunjung mengerti. kami yang tumbuh dari belikat padi, dewasa bersama kepompong kumbang jati, mati menjadi rabuk ladang tembakaumu. lalu setiap helai nasib yang hijau pucat, dirajang dipanggang dijemur, seperti menyusun setiap anak bata menjadi rumah bagi anak-anak kami. dan seperti lazimnya setiap kisah, berakhir dalam gulungan papir, merasuk dalam paru dan jantung kami dalam desah serupa zikir.

kami menjadi tembakau, menjadi serpih bunga cengkih, dan minyak rempah aroma tanah kami. kami menjadi ladang menjadi sawah bagi tungku-tungku di dapur kami. kami menjadi seragam sekolah anak-anak kami. menjadi pupuk pekarangan kami. menjadi nafas bagimu, Merapi.

kami memang membakar usia dan tubuh kami. sedangkan asap dan abu hanyalah bayang-bayang kami. ribuan sigaret yang hinggap di sela jemari kami, di sela bibir kami, adalah ribuan musim senja dan embun pagi yang berkilau di punggung petani. di punggung Merapi. dan kami percaya, setiap hembusan asap yang mengepul dari nafas kami, mengepulkan asap di tungku-tungku ibu kami. dan kami percaya, setiap gemeritik latu yang membakar linting tembakau ini membakar kecemasan-kecemasan kami. dan kami percaya. dan kami percaya. dan kami percaya. ladang tembakau di kakimu, Merapi, mencatat ribuan musim senja dan embun pagi.

Reply