Telur Dadar

wangi aroma telur goreng merobek pagi kami yang berembun. kami melihat peta kota kami di lempeng dadar itu. kota yang kuning dan cinta yang memutih di sekeliling. kami terbiasa dengan lingkaran, sebagaimana kami memutar piring makan kami, memutar rantai tasbih kami. serupa benar dengan roda nasib kami, berputar, melingkar. seperti semesta yang berbinar di bola mata.

kami menyayat dadar telur kami lalu melelehkan saus cabe merah yang mengingatkan pada darah kelahiran kami. pagi masih berkabut. kulit kami masih berkerut oleh dingin basah kemarau. dan kami melahap telur dadar kami seolah menelan langit dan bumi, seperti Kala menelan roda nasib kami.

pagi di teras rumah kami masih basah berkabut berembun. kami mengaji kitab telur dadar hingga khatam hingga amin. begitulah kami mendoakan pagi kemarau yang mendung. demi tetes embun kami berlindung.

Reply