Tiga Kali Kesunyian*

Apa yang terjadi jika kesunyian dikalikan tiga?

Jika kesunyian adalah bilangan nol, maka dikalikan berapapun ia akan menemu dirinya sendiri. Tetapi, sidang pembaca yang budiman, buku ini bukanlah sebuah risalah aljabar. Ini adalah buku puisi, sebuah himpunan karya tiga orang penyair. Tiga orang penyair yang berangkat dari keimanan bahwa puisi dapat dimasak dengan dua bumbu utama: riuhnya kegelisahan dan heningnya kesunyian. Paling tidak, begitulah asumsi yang saya siapkan untuk menjumpai sajak-sajak ketiga penyair ini.

Saya dipercaya untuk memilah-milih sajak-sajak mereka tentu bukan karena saya dianggap lebih berkemampuan untuk menilai, namun lebih karena saya adalah orang luar yang tidak memiliki ikatan emosional dengan kelahiran sajak-sajak tersebut dan karenanya saya dapat leluasa memilih atau memilah sajak-sajak mana yang boleh hadir dalam perhelatan mereka ini. Sungguhpun demikian, urusannya tidaklah sesederhana itu, paling tidak bagi saya sendiri. Ternyata saya, entah bagaimana, masih merasakan ikatan emosi dengan sajak-sajak ketiga penyair ini sehingga memilih (dan karenanya juga menolak) beberapa dari sejumlah sajak yang mereka kirimkan bukanlah pekerjaan yang mudah. Mungkin karena saya sedikit-banyak menyaksikan perjalanan kepenyairan mereka sedari mula, atau karena alasan yang lebih masuk akal: saya gagal menciptakan jarak menjadi orang asing bagi sajak-sajak mereka.

Menilik sajak-sajak Pakcik Ahmad, Inez Dikara dan Dedy T. Riyadi, ketiganya aktif di beberapa komunitas sastra berbasis web, saya dihadapkan pada kecurigaan bahwa sajak-sajak ini ditulis dengan mulut terkatup (tentu sesekali berselingan dengan isapan asap rokok atau sesapan kopi). Saya menduga mereka sengaja membiarkan rasa, logika, dan intuisi kosmik berkolaborasi dengan gaduh sembari menjaga kamar puitik mereka tetap hening. Dengan pendekatan masing-masing, ketiga penyair ini seolah sepakat untuk bergelut dengan sunyi. Ada yang lalu menjadikan kesunyian itu sebagai lawan yang mesti ditaklukkan, ada yang sekedar menjadikannya sebagai kamar di mana sang penyair bermeditasi bergulat dengan pikiran-pikirannya, kilasan-kilasan kenangan, atau dengan kerinduan-kerinduan. Ketiga penyair ini menunjukkan gaya dan jurusnya masing-masing.

Saya tidak akan menguraikan dugaan-dugaan saya tersebut dengan argumen atau pembuktian apapun karena saya tak ingin merebut hak sidang pembaca sekalian. Saya kira saya cukup menyatakan bahwa sajak-sajak ketiga penyair yang terhimpun dalam buku Sepasang Sepatu Sendiri dalam Hujan ini selain dapat dinikmati sebagai paduan suara trio yang harmonis, dapat juga dinikmati sebagai tiga layar film yang memutar cerita berbeda lalu ditonton pada saat bersamaan. Atau Anda, sidang pembaca yang budiman, dapat pula menikmatinya secara saya: tiga cangkir berisi kopi Medan, teh Tegal dan kopi Aceh, dinikmati bergantian diselingi kepulan asap rokok kretek dari tembakau dalam negeri.

Lalu, apa yang terjadi jika kesunyian dikalikan tiga? Ah, saya tak begitu peduli. Anda?

Yogyakarta, 5 Juli 2007

TS Pinang
(Penyunting)

______________________
* catatan untuk buku kumpulan puisi tiga penyair “Sepasang Sepatu Sendiri dalam Hujan” (Inez Dikara, Pakcik Ahmad, Dedy Tri Riyadi)

Jika kesunyian adalah bilangan nol, maka dikalikan berapapun ia akan menemu dirinya sendiri. Tetapi, sidang pembaca yang budiman, buku ini bukanlah sebuah risalah aljabar. Ini adalah buku puisi, sebuah himpunan karya tiga orang penyair. Tiga orang penyair yang berangkat dari keimanan bahwa puisi dapat dimasak dengan dua bumbu utama: riuhnya kegelisahan dan heningnya kesunyian. Paling tidak, begitulah asumsi yang saya siapkan untuk menjumpai sajak-sajak ketiga penyair ini.

Please follow and like us:

Reply