Doa Lupa Kami

suram, suram
mentari yang merana
leram, leram
leram murka dahana

kami beriman pada kemarau, musim di mana kering mengesatkan lidah. dan api yang mewarnai bunga-bunga, menjadi pelepas kami punya dahaga. kami, kaki kanan dan kiri melangkah mendaki. kadang kami tak sepakat, kadang kami sehati, kadang kami berhenti. desau angin dan terik hari tak selalu memudahkan arah di peta kami. relief yang terjal tak rata, batuan yang memendam fosil sejarah kami, pohon-pohon yang setua kota kami semakin remang oleh jingga senja yang tumbang. malam kami kadang membara, sedangkan bulan memuncak di ujung kepala.

wung, wung, gung
sirnalah kutuk sirnalah bala
o, suwung yang agung
hisap kami penuh segala

dan kami nyala, kami nyala. sebiru nyala balok parafin di tungku lipat kami, merebus malam kemarau yang berdebu agar kami segera jalan kembali, mendaki kembali gunung kami yang terlupa. dan kami nyala, kami nyala. rambut kami berkibar, meninggalkan kepala.

o, kembang trirupa
tiga nama tuhan kami sebutkan
o, tembang sari lupa
hapuskan nama kami, kebutkan

singkirkan langit, laut, api dari mata kami. singkirkan gunung, sungai, batu dari mata kami. singkirkan senja, malam, pagi dari mata kami. singkirkan lalu, kini, nanti dari mata kami.

Dimuat di Kompas edisi Minggu, 21 Desember 2008.

Reply