Merebus Kesedihan

kami berpuasa dari sukacita, kami berpantang tertawa. kami membangun mimpi dari rasa cemas dan rasa takut yang akut. kami berpuasa agar kuat menanggung semua rasa airmata. asin, pedih, panas, pengap, pepat, nyeri, ngilu. kami berpuasa agar dapat belajar dari ketel yang menjerit menjelang subuh, merebus kesedihan yang memasygulkan malam. kami berpuasa dari hirukpikuk keinginan yang tak terbeli oleh cinta, oleh pelukan, oleh cium lekat hangat bibir kami.

kami berpuasa, tak ingin menjolok bulan seribu, atau merobek langit dengan zikir semalaman. tak ingin menggerus neraka dengan tadarus hingga pedih mata, hingga habis suara. kami puasa, hanya untuk merebus kesedihan dalam ketel penuh air doa dari sumur di belakang rumah kami.

Dimuat di Kompas edisi Minggu, 21 Desember 2008.

Reply