Seterjal Makna

kami membaca kulkas dan televisi di selebaran promo diskon belanja, bukan di sajak Afrizal Malna. setiap pagi, di sumur di kamar mandi kami menyanyi mazmur dan kidung barzanji. di siangnya kami mengiring jenazah-mu menuju makam di kepala bukit, bertanda batu kepala hewan mitis berwajah ganas. di sebalik bukit itu kami membayangkan laut menunggu. dan senja menggelinding dari terjal batu-batu. sembari mendaki, sesekali kami menghitung langkah dan anak tangga, bungkah padas dan wajah Durga. hingga di puncak surup kami mulai terjun ke palung malam, menyelami birahinya sedalam yang mampu kami duga. dan sungguh, kami tak pernah peduli lagi kapan kami akan mencapai subuh!

Reply