Segenggam Garam untuk Sepuluh Kata

kami hendak berniaga dengan-Mu, segenggam garam dapur untuk sepuluh kata dalam poster di tiang lampu jalan. sedangkan angin puting di awal musim basah menerbangkan daster kami, tersangkut, berkibar di setang sepeda; ikut menebar tulah semesta.

lalu di relung hujan parah sore-sore, kami menyimpan suara azan di masjid ke dalam rak di sela buku-buku puisi, tempat kami menyimpan abu jenazah sajak-sajak yang mati tua: tiada sempat kami kubur di ombak lautan, sebab kami masih membuat sampan dari lipatan koran. lalu kami habiskan malam dengan sepasang gunting—kami sedang membuang gambar burung itu dari topi seragam sekolah anak-anak kami.

Reply