118. Meninggalkan Pembaca

Kadang kita terjebak pada gagasan bahwa kita menulis sajak untuk dinikmati orang lain, dinikmati oleh pembaca-pembaca sajak kita itu. Bayangan pembaca yang menunggu, membaca, lalu bereaksi atas sajak-sajak yang kita tuliskan lama-lama menjadi semacam candu. Tak jarang pula komentar dari pembaca-pembaca (yang kita anggap) kuat meninggalkan dampak pada sikap kreatif kita, pada cara kita bersajak berikutnya. Belum lagi pembaca-pembaca murah hati yang obral dengan puji-pujian yang cenderung memabukkan, membuat kita ketagihan lalu cenderung menuruti hasrat memperoleh lebih banyak lagi pujian.

Penyairku, beranikah kau meninggalkan pembacamu? Beranikah kau meninggalkan pembacamu? Beranikah kau?

9 Replies

  1. bali Andvetutre Tour Reply

    Ada benernya… semua tergantung ama pembaca.. dan hal wajar saja pembaca datang dan pergi… yang penting kita yang selalu exis engak pergi dari menulis..

    Teruslah berkarya….

  2. ekin Reply

    menulis lah untuk orang yg kau sayangi.
    maka kau akan menulis dengan sepenuh hati.
    dan orang lain pun akan menikmati.

  3. widi Reply

    pembaca emang perlu kalo tulisan bagus dia akan datang… kalo elek dia akan pergi… jadi datang atau pergi tergantung pada kita…jadi untuk apa takut..

  4. Bajang Reply

    berani, berani…mari kita coba
    😀

  5. TSP @ Samalona Reply

    Silakan "baca" kembali konteks "meninggalkan pembaca" dalam sketsa ini.

  6. Samalona Reply

    Setelah kau tinggalkan, saat ingin kembali lagi, tak malukah kamu? :). Santai saja. Pembaca datang dan pergi. Bukan kita.

  7. heri Reply

    yap, setuju. Terkadang ngobral pujian biar dipuji balik.

  8. benz Reply

    berani2 aja tuh, om.

Reply to Ahmad Kasiron X