Jalan Pahlawan

seandainya kamilah pemilik nama-nama yang terpampang di penggal-penggal jalan itu, banggakah, malukah, sedihkah rasa kami? begitulah kota-kota kami dirangkum oleh ruas-ruas jalan bernama para pahlawan, kebanggaan pada kuburan begitu dalam mencekam bawahsadar kami, seperti mitos-mitos yang tak mau kami tinggalkan. sudirman, diponegoro, ahmad dahlan, kartini, pahlawan revolusi, pahlawan negeri yang gagah berani, tertulis di papan-papan jalan. jalan yang sempoyongan memanggul mobil motor bus truk andong dan warung-warung tenda dan sampah-sampah. jalan yang asma oleh asap penuh karbon dan molekul timah hitam dan sempit oleh ruang yang berebut ingin. membayangkan jalan-jalan pahlawan ini kami terbayang liang kubur yang sempit dan pengap pula.

jalanan kami gagah tak gentar tanpa trotoar cukup lebar. seperti nama-nama yang besar itu harus bersabar menunggui jejalur yang tak cukup lebar untuk menampung kesabaran: sesuatu yang selalu kami uji di setiap simpang dan sepanjang garis marka, walau di atas sadel atau belakang lingkar kemudi kami sering digoda murka.

seandainya kamilah pemilik nama-nama yang terpampang di penggal-penggal jalan itu, kami bersyukur ini hanya sebuah andai.

Dimuat di SUARA MERDEKA Minggu, 19 Juli 2009

Reply