Kartograf

angka demi angka jatuh di petak-petak peta kota. angka kepala balita-balita, angka kepala anak-anak sekolah, remaja-remaja, dewasa-dewasa, tua-tua bangka. angka-angka kalori yang dimakan setiap hari, angka-angka usia tanah dan batu, angka-angka yang tak henti berjatuhan di petak-petak peta kota-kota kami. berjatuhan dari langit dari bencana dan mimpi-mimpi. dan petak-petak itu kian jejal kian pejal oleh angka dan tanda-tanda, oleh legenda oleh mitos dan statistika, terperangkap di anyaman garis-garis lintang dan bujur, garis-garis kontur dan garis-garis yang menerus, yang putus-putus, yang mengiris petak-petak peta kota-kota kami. kami letakkan di petak-petak itu kotak-kotak tempat kami menghimpun kebahagiaan, menyusun keinginan. kami tuliskan nama-nama di ruas-ruas jalan, di alur-alur sungai, di pepohonan. kami warnai bidang-bidang dari sifat-sifatnya, dari warna kulitnya, dari nafsu-nafsu kami sendiri.

angka demi angka terbang dari petak-petak peta kota. kami tergagap, kehilangan bilangan yang belum sempat kami ingat. seperti memandang haru foto-foto keluarga, kami pandangi selembar kartograf tanpa legenda.

Dimuat di Koran Tempo Minggu, 5 April 2009

Reply