Metropolesan

percayalah, kami masih menghitung musim dari sudut rasi-rasi bintang di langit-langit malam. kami panggil dan usir hujan dengan dupa dan kembang-kembang agar konser band pop paling sohor di seluruh bumi tak terganggu langit yang bocor. percayalah, kami telah akrab dengan bilangan biner dan kerdip layar ponsel, akses blackberry dan piranti bergelombang gaib produksi terkini. kami akrab pula dengan konsultasi peramal nasib di inbox pesan langganan kami. gaya kami industri, jiwa kami rumpun padi. percayalah, kami bangga jadi generasi fotokopi. apa yang kami konsumsi sebagai sarapan pagi, sepiring informasi dan instalasi instan alur logika kami, adalah gizi yang membuat kami tumbuh lebih bersinar dalam hiruk-pikuk kompetisi. kami gunting gaya hidup dot-com dan kami tempel di balik mantel saat kami dihajar hujan tropika yang tak mengerti teknologi, tak faham logika ekonomi.

percayalah, kami masih menilai kualitas intelektual kami dari aroma terasi di sambal kami, udang asli atau rasa imitasi. kami mengerti waktu tak lagi jadi milik kami, ia telah dibeli oleh mesin-mesin otomasi, membuat kami kehilangan pagi, siang, malam-malam kami. lalu, dalam maraton dari simpul ke simpul di kota-kota kami, kami belajar lupa rupa kami sendiri. semakin jauh pula jarak bumi dari telapak kaki kami. percayalah, kami masih mendambakan mantra dan ritual pemanggil manna untuk mengelupas make-up di wajah kami.

dan di tengah tidur kami yang bergerigi, kami payah mengingat kembali apa nama kota kami.

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 04 Oktober 2009

Reply