Mistika Urbana

kami berjamaah di warung-warung kopi, di sudut-sudut layar browser, mengaji ayat-ayat yang jatuh begitu saja dari ujung-ujung jemari. di jalanan, wajah-wajah memancarkan elektron, kaki-kaki bergegas secepat sms dan sinar pencerahan dari mesin pencari. kami ingin mencari nama, mencari uang, mencari suaka dari fatwa-fatwa ulama. kami berkelana di warung-warung koneksi, di antena-antena jaring-jaring gelombang tinggi, di mana kata dan gambar kami saling berpapas tanpa tubuh dan nafas. kami memecah raga dan jiwa kami berlaksa berjuta kali, datang dan pergi sejauh ai-pi. kami menemukan diri kami sendiri, terserak di sengkarut alam bayang pita-pita frekuensi.

kami bersuci dari debu mikro asap solar bus kota dan noda timbal, dengan air hujan penuh limbah mineral. zikir kami nama-nama penghibur terkini, tasbih-tasbih digital di mana kami ungkapkan ketelanjangan kami. tetabuhan dengan ketukan kian cepat mengiringi ekstasi kami, dan kegelapan tak lagi menakutkan. jantung-jantung kami membuka, menghisap bergiga-giga bit data dari langit-langit, dari kabel-kabel, dari nomor-nomor akses cepat, dari atmosfer yang kami hirup begitu saja sebagai meditasi. pendar layar kristal menyala-nyala di dalam kami. mungkin bukan tuhan, tapi kami temukan detak hidup kami.

adapun tuhan, tak lagi kami cari-cari.

Dimuat di SUARA MERDEKA Minggu, 19 Juli 2009

Reply