Monumen

kami rajin mengabadikan kalender dalam prasasti dan patung dan tugu-tugu, memahat dongeng-dongeng dan membingkainya abadi. perunggu, semen, batu, dan adonan pengingat kami lebur kami cetak hingga tetap bentuknya. kami masih gampang kagum pada kenangan, gampang lupa pada cita-cita, gampang abai pada waktu yang sedang berderap berbaris dalam langkah cepat. kami tenggelam dalam lautan slogan dan janji-janji yang kami kemas dalam monumen-monumen di setiap simpang kampung, setiap gerbang desa, setiap batas kota. kami lipat dalam brosur-brosur wisata, dalam buku profil desa dan kota.

kami rajin menegakkan lingga kami setinggi yang mampu kami ingat, monumen kesombongan kami yang jantan. begitu rajinnya hingga kami lupa keramat yoni, ibu yang rebah memohonkan maaf atas kebodohan kami pada haribaan bumi.

Dimuat di SUARA MERDEKA Minggu, 19 Juli 2009

Reply