Nota Kota

bahkan selembar bumi yang kami pijak ini bukanlah milik kami. kami cuma menjiplaknya dalam garis-garis vektor, mewarnainya dalam bitmap dan konvensi gambar dan angka. kami pandang dalam jarak dekat dan jauh, dalam skala pengganti jengkal dan depa yang tak kuasa lagi membilang rasa lapar kami akan wilayah dan kuasa. kami tak lagi menanam padi varietas unggul atau jagung yang menjanjikan tongkol semontok pinggul. kami menanam mata uang, membungkus mata kaki, mengubur mata hati.

kami melarutkan diri dalam adonan afrodisiak yang memicu gairah kami: mani! mani! money! setiap hirup udara yang masuk paru-paru kami ialah psikotropika yang diproduksi dari bong-bong sepeda motor, bus kota, pabrik-pabrik, juga panas hati dan sumpah-serapah. lampu merah kuning hijau, tanpa langit biru, tanpa pencipta yang agung, hanya berkedip-kedip bergantian seperti warna-warna daun di peralihan iklim, seperti lampu-lampu neon-box yang mengiklankan rangsangan seksual dan mimpi-mimpi erotis. iklan-iklan partai, iklan-iklan party, kami tancapkan di setiap depa lahan-lahan kami berharap suatu saat dapat menuai rasa kenyang.

kami mencatat diam-diam, siapa tertawa siapa menangis, siapa menertawakan siapa yang menangis. kami mencatat diam-diam, kapan bisa terlepas dari belenggu angka dan garis.

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 04 Oktober 2009

Reply