Pasar Bringharjo

setiap tetes peluh berniaga dengan harapan dan senyuman sederhana. kadang wajah-wajah tampak terlalu beku sebab udara yang terlalu berat kurang sinar, dan deretan los-los yang terlalu malas menyegarkan diri. bau pewarna batik, bumbu-bumbu dapur, dan lain-lain, dan lain-lain, mengendap seolah kondensasi uap air yang siap menjadi hujan.

mentari di pasar ini terbit sejak satu atau dua dini hari, tanpa bayang-bayang, dan embun belum lagi dilahirkan sebab subuh masih hamil tua. hari-hari mendewasakan diri dalam oksigen yang tipis, asap sigaret dan bau-bauan campur-baur parfum murahan, minyak rambut murahan, make-up murahan, negosiasi murahan, lagu-lagu murahan. lalu, saat matahari mulai lemas kehabisan nafas, malam pun jatuh begitu saja.

dan suara-suara berubah, cuaca berubah, cahaya berubah. bau-bauan tadi masih tertinggal, seperti kenang-kenangan pengingat uap keringat yang terbawa pulang. setiap senja beralih gelap, cerita-cerita yang lain bersiap. babak baru. agak gelap, memang. namun, siapa saja yang merajut kisah Bringharjo setiap hari, telah paham dan mengerti. dini hari dan senja yang mati, adalah kegelapan tempat mereka berjudi dengan nasib. tanpa puisi.

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 04 Oktober 2009

Reply