Shopping Mall

yaitu museum tempat kami menyimpan artefak peradaban kami. di sini kami menarikan ritual pemujaan pada dewa-dewi peradaban kami. kami satukan gerak mikrokosmik dalam geliat hasrat kami akan semesta kehidupan: benda-benda yang kami keramatkan, dengan sabda makrosemesta yang mendikte apa yang mesti kami beli. kami beli. kami beli. kami beli. kami beli pepohonan hutan-hutan kami dalam majalah gaya hidup, kami beli mineral bumi kami dalam ambisi berkecepatan tinggi, kami beli raung kebisingan yang menghidupkan senja-senja kami.

yaitu kamar yang hingar untuk pesta topeng kami setiap hari. kostum-kostum yang tak lagi sungguh-sungguh menyiarkan siapa diri, aksesoris penipu lirikan mata dan dengus iri. lihatlah betapa kami betah menari sepanjang hari, menukar keletihan dengan apa saja yang dapat diganti dengan angan-angan kami.

yaitu tempat kami melacurkan kemanusiaan kami.
sebab harga diri, sudah tak mampu lagi kami beli.

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 04 Oktober 2009

1 Reply

  1. winy Reply

    superb, setuju 😉 salam kenal

Reply