Trotoar

petak-petak ubin semen cetak lama-lama habis juga. terkikis tanam-tanaman mengiba minta lahan, pedagang kaki lima dengan mobil pick-up dan lapak-lapak berjajar miliknya, dan ribuan sepeda motor yang luber dari jalanan kota. petak-petak ubin semen cetak ini bukan untuk telapak kaki kami, sebab tak ada lagi pejalan kaki di pinggir jalan. pejalan-pejalan kaki kini mengukur panjang rute eskalator shopping mall sambil menghirup oksigen daur ulang dari mesin ac. meninggalkan trotoar-trotoar sepi dikutuk rindu telapak kaki, dikencingi setiap dini hari, diguyur kuah sisa-sisa warung lesehan, ditindik paku-paku tali tenda warung-warung malam.

kota kami sudah tua, jalan-jalan beruban, dan trotoar tercukur dari wajahnya. sementara kami hanya perlu sedikit spasi, untuk menyisipkan beberapa larik puisi.

Dimuat di Koran Tempo Minggu, 5 April 2009

Reply