Vredeburg

sejarah kami ditulis dengan torehan keris di dinding-dinding benteng, dengan derap kuda dan moncong meriam, dengan tembok setebal depa, dengan segala cara pencegah lupa. sejarah kami ditulis di monumen-monumen batu tegak membisu di sudut-sudut kotapraja, menjadi segel keramat jiwa-jiwa yang gelisah dengan masa lalu, takut terlupakan namanya di buku-buku. monumen-monumen batu tegak membisu itu, menikmati kesunyiannya di taman kota berpagar baja, seperti penyair di sudut bar mabuk kata-kata.

sejarah kami ditulis dengan hawa istana, kisah perselingkuhan raja-raja, pusaka-pusaka dan filosofia; sebab kekalahan tak boleh diingat, dan memandang langit adalah cara termudah melupakannya. begitulah sehingga sejarah kami basah kuyup oleh ombak samudra kidul, sangit oleh kepundan gunung kami.

sejarah kami ditulis dengan pesing air kencing tukang becak, gelandangan, apak kembang kuburan yang membusuk di ceruk-ceruk selokan, ditulis dengan graffiti dan mural, ditulis dengan bendera warna-warni bergambar sakit hati dan perut mual. sejarah kami ditulis dengan hiruk-pikuk pedagang sayuran dini hari, buruh-buruh gendong dan deru truk pick-up, dan embun rasa keringat.

sejarah kami ditulis dengan cara yang tak mudah, seperti monumen-monumen batu tegak membisu yang ingin bebas dari peluh gelisah dan rasa bersalah.

Dimuat di Koran Tempo Minggu, 5 April 2009

Reply