Bibir Kota

di bibir sungai kami membangun kampung, imitasi kota-kota kami sendiri dengan jalanan selebar badan dan kamar seluas debar kecemasan kami akan pagi. di situlah tempat kami mengenang sawah-sawah dan pekarangan yang kami tinggalkan jauh-jauh dalam mimpi. kami membangun terasering di bantaran kali lintas kota, punggung nasib kami yang rata, lalu menanaminya dengan tiang-tiang bambu dan dinding-dinding bata.

di bibir mimpi kami menanam ingatan pada cangkul dan ani-ani, pada luku dan garu, pada tugal dan bebijian palawija, dan air yang kian rajin mengering dari umbul telaga, dan hujan yang kian tak rata, dan gambar cuaca di langit yang kian tak terbaca. lalu kami berduyun mendayung rumah-rumah kami sepanjang kali, menambatkannya di tepi-tepi. lalu kami belajar membaca kerlip serupa bintang di langit-langit kota, pukaunya begitu benderang menyilau mata.

di bibir pagi kami masih bermimpi dengan mata terbuka. kami belajar tidur siaga, sebab di kampung ini setiap desah nafas adalah perburuan, dan setiap jengkal waktu adalah ronde kecemasan. dari kampung kami, hingar-denyar kota terdengar riuh begitu rupa. dari atap kota, kami cuma kakus tempat membuang dosa.

di bibir sengal nafas kami, kami mulai belajar tanda-tanda muslihat nasib dan menghitung kekalahan.

di bibir kota, kami menggumpal jadi ampas permen karet di telapak sepatumu!

Dimuat di Kompas Minggu, 21 Juni 2009

Reply