Suburbia

jantung kota kami telah meledak, melesak hingga ke ujung-ujung jemarinya. di ujung-ujung jemari kota kami itu kami menjilati remah-remah di pinggir piring-piring makan kami. berserak, bersebaran ke mana-mana, ke setiap ujung jemari bintang mata angin di ingatan kami akan pelajaran geografi.

jantung kota kami kian kencang berdetak, kian kami tak punya halaman untuk menghirup nafas panjang di malam yang gerah oleh tagihan kerja besok pagi. jantung kota kami kian riuh oleh degup yang semakin rapat frekuensinya, seperti dentam perkusi yang merajam nyaris tak ada sela untuk sepotong melodi atau solo viola atau sekedar jeda.

jantung kota kami kian jauh, dan kami kian menepi kian menenggang jarak agar kami tak pongah dengan langkah kami yang secepat anak panah, agar kami tak lengah dan rengkah tergencet badan-badan mobil berimpit di lampu merah. dan kami kian memanjangkan jarum jam kami agar kami dapat menghitung liter minyak terbakar di tungku sepeda motor kami yang kian lama menyala, kian menipiskan pantat kami saja.

jantung kota kami kian hitam oleh jelaga dari knalpot mesin-mesin kendara kami, oleh rupa-rupa maksiat dan muslihat, oleh malam yang telat mengendap. jantung kota kami kian tersengal, kian sering anfal oleh cuaca nakal atau perhitungan neraca yang gagal.

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 04 Oktober 2009

Reply